Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Indosat Akselerasi Starlink, Internet Satelit Kini Merambah Wilayah 3T

2026-01-06 | 21:53 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-06T14:53:01Z
Ruang Iklan

Indosat Akselerasi Starlink, Internet Satelit Kini Merambah Wilayah 3T

Lintasarta, anak usaha dari Indosat Ooredoo Hutchison (IOH), telah mempercepat implementasi layanan internet satelit Starlink milik SpaceX untuk memperluas akses digital ke seluruh Indonesia, khususnya di wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T). Kolaborasi ini, yang secara resmi diteken pada Agustus 2024, telah mencatat pertumbuhan adopsi lebih dari 400% dalam satu tahun terakhir, didorong oleh kebutuhan sektor industri, pemerintahan, dan daerah 3T.

Penguatan kemitraan ini ditandai dengan kunjungan pimpinan SpaceX ke Indonesia pada Desember 2025 untuk bertemu langsung dengan manajemen Lintasarta. Director & Chief Telco Services Officer Lintasarta, Zulfi Hadi, menyatakan bahwa percepatan adopsi Starlink ini mencerminkan kebutuhan akan konektivitas yang cepat, andal, dan aman, terutama di area yang sulit dijangkau jaringan konvensional. Zulfi menambahkan bahwa kolaborasi ini tidak hanya bertujuan menghadirkan konektivitas, tetapi juga membangun fondasi kedaulatan digital Indonesia, dengan penekanan pada tata kelola yang kuat, keamanan yang terjaga, dan manfaat nyata bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

Tantangan pemerataan akses internet di Indonesia, terutama di wilayah 3T, masih sangat signifikan. Meskipun survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) dan Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informatika (BAKTI) pada Juli-September 2024 menunjukkan bahwa penetrasi internet di wilayah 3T telah mencapai 82,6% atau sekitar 8,1 juta jiwa dari total 9,8 juta jiwa, masih ada sekitar 1,7 juta masyarakat yang belum memiliki akses. Sebagian besar kendala disebabkan oleh kondisi geografis Indonesia yang luas dan kepulauan, membuat pembangunan infrastruktur terestrial seperti kabel fiber optik menjadi mahal dan sulit. Data tahun 2024 menunjukkan masih ada 12.548 desa yang belum memiliki akses internet memadai, dengan 30% sekolah di wilayah terpencil belum terhubung ke internet stabil.

Teknologi satelit orbit rendah (LEO) seperti Starlink menawarkan solusi yang relevan dan efektif untuk mengatasi keterbatasan ini, menjanjikan akses yang lebih luas dan konsisten. Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Budi Arie Setiadi, pada Mei 2024, mengonfirmasi bahwa Starlink telah mendapatkan izin beroperasi di Indonesia sebagai penyedia layanan internet ritel dan telah diberi lampu hijau untuk menyediakan jaringan setelah menerima izin VSAT. Pihak Starlink juga mengklaim telah memenuhi semua perizinan yang dibutuhkan, termasuk pembangunan Network Operation Center (NOC) dan Gateway Station di Indonesia, sesuai dengan regulasi pemerintah.

Indosat, melalui CEO-nya Vikram Sinha, menyambut baik kehadiran Starlink, melihatnya bukan sebagai kompetisi, melainkan sebagai peluang kolaborasi untuk mempercepat pemerataan internet di daerah pelosok. Indosat secara aktif menjajaki kemitraan dengan penyedia layanan satelit, termasuk Starlink dan OneWeb, untuk sektor-sektor seperti pertahanan, perikanan, serta untuk memberikan akses data yang baik di area pedesaan dan daerah 3T. Danny Buldansyah, Director & Chief Business Officer Indosat, juga menyebutkan bahwa Starlink bisa menjadi salah satu solusi untuk 1.023 desa yang tengah dibangun jaringan internetnya oleh Indosat, meskipun bukan satu-satunya opsi.

Integrasi layanan Starlink dengan infrastruktur cloud, sistem keamanan siber, serta ekosistem kolaborasi AI milik Lintasarta mencerminkan pendekatan holistik dalam transformasi digital. Lintasarta berupaya agar teknologi tidak hanya hadir, tetapi benar-benar memberdayakan Indonesia, menciptakan pemerataan peluang, meningkatkan daya saing industri, dan mendorong pertumbuhan ekonomi digital yang inklusif, sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045. Implementasi ini mendukung pernyataan Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika Nezar Patria bahwa sinyal tidak mengenal wilayah administrasi, sehingga teknologi harus mampu mengatasi risiko yang muncul dan memastikan kedaulatan data. Kebijakan pemerintah juga terus berupaya mendorong integrasi teknologi satelit yang berkembang, seperti LEO, untuk menyediakan konektivitas latensi rendah dan kecepatan tinggi di seluruh wilayah.