
Telkomsel, operator telekomunikasi terbesar di Indonesia, telah mencapai penetrasi jaringan 4G yang masif, menjangkau lebih dari 97% populasi Indonesia pada akhir 2024. Pencapaian ini selaras dengan target pemerintah untuk pemerataan akses digital. Di sisi lain, perusahaan ini terus memperluas jaringan 5G-nya, yang telah mencapai lebih dari 56 kota dan kabupaten pada pertengahan 2025, dengan rencana ekspansi berkelanjutan hingga tahun 2026.
Sejak peluncuran komersial 5G pada tahun 2021, Telkomsel telah menggelar lebih dari 1.400 menara BTS 5G, menjadikannya jaringan 5G terluas dan tercanggih di Indonesia. Ekspansi agresif ini mencakup titik-titik strategis seperti 225 situs 5G di Denpasar dan Badung, Bali, pada Agustus 2024, serta 72 BTS 5G aktif di area Bandung Raya pada Juli 2025. Bahkan, pada Mei 2025, Telkomsel menambahkan 73 BTS 5G baru di Makassar, termasuk Bandara Internasional Sultan Hasanuddin. Perluasan ke depan akan menyasar kota-kota utama di Sumatera seperti Medan, Pekanbaru, Padang, dan Palembang.
Direktur Teknologi Telkomsel, Indra Mardiatna, menyatakan bahwa ekspansi jaringan Hyper 5G merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk membangun konektivitas digital yang merata dan berkualitas di seluruh Indonesia. Ia juga menambahkan bahwa jaringan Hyper 5G merupakan katalis bagi transformasi digital, membuka peluang kemajuan menuju visi Indonesia Emas 2045. Derrick Heng dari Telkomsel juga menekankan komitmen untuk memperluas jaringan 5G secara luas dan merata di area-area kunci, sebagai upaya untuk mendorong kemajuan dan memberdayakan masyarakat Indonesia.
Pencapaian cakupan 4G Telkomsel yang telah menembus 97% populasi ini menempatkannya sebagai pemimpin dalam pengalaman cakupan (Coverage Experience), menunjukkan jejak geografis terluas di area berpenduduk dibandingkan operator lain, menurut laporan Opensignal Juni 2025. Ookla® Speedtest Awards™ pada Q3-Q4 2023 juga mengakui Telkomsel sebagai "Best Mobile Coverage" dan "Fastest Mobile Network". Tingkat penetrasi internet di Indonesia mencapai 72.78% pada tahun 2024, menurut data Badan Pusat Statistik, dengan kepemilikan telepon seluler mencapai 68.65%. Angka-angka ini menggarisbawahi urgensi penyediaan infrastruktur digital yang merata.
Meskipun demikian, percepatan adopsi 5G di Indonesia menghadapi sejumlah tantangan. Ketersediaan spektrum frekuensi dan biaya menjadi kendala signifikan. Indonesia telah mengalokasikan blok spektrum yang relatif kecil untuk 5G dibandingkan negara-negara regional, yang membatasi kapasitas dan kinerja jaringan. Operator telekomunikasi juga seringkali menyoroti tingginya biaya spektrum sebagai penghambat investasi untuk perluasan cakupan. Selain itu, penetrasi perangkat 5G masih terbatas dan harganya belum terjangkau bagi sebagian besar populasi Indonesia. Rendahnya permintaan konsumen terhadap layanan 5G juga menjadi hambatan, karena jaringan 4G masih dianggap cukup andal untuk kebutuhan penggunaan sehari-hari seperti media sosial dan streaming video.
Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), telah memimpin agenda transformasi digital nasional dengan fokus pada infrastruktur digital inklusif, pemerintahan digital terintegrasi, ekonomi digital yang tangguh, talenta digital berkualitas, dan masyarakat digital yang cakap. Kominfo menargetkan cakupan 4G 100% di seluruh desa pada tahun 2025 dan berambisi untuk memperluas konektivitas 5G hingga mencakup 32% populasi pada tahun 2030.
Strategi Telkomsel hingga akhir 2026 akan terus memprioritaskan penguatan jaringan 4G, terutama di area pemukiman, pusat aktivitas ekonomi, dan jalur mobilitas tinggi, sekaligus melanjutkan perluasan 5G secara selektif. Perusahaan juga telah mengintegrasikan pendekatan Hyper AI untuk manajemen jaringan yang efisien dan otomatis, guna memastikan respons cepat terhadap gangguan dan mendukung layanan digital. Meskipun Indonesia menghadapi kompleksitas geografis dan ekonomi dalam menggelar infrastruktur telekomunikasi canggih, komitmen Telkomsel dalam menjaga kualitas 4G yang hampir merata dan perluasan 5G yang terarah diharapkan dapat mendukung visi pemerintah untuk mewujudkan masyarakat digital yang inklusif dan berdaya saing.