Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

iPhone 17 Dipastikan Lebih Mahal: Harga RAM Meroket 230 Persen

2025-12-29 | 08:50 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-29T01:50:18Z
Ruang Iklan

iPhone 17 Dipastikan Lebih Mahal: Harga RAM Meroket 230 Persen

Harga jual lini iPhone 17 pada peluncuran akhir 2025 diperkirakan akan mengalami kenaikan signifikan, terutama dipicu oleh lonjakan tajam harga modul RAM LPDDR5X, yang krusial untuk perangkat seluler premium, melonjak lebih dari 130 persen dari awal hingga akhir tahun 2025. Peningkatan biaya komponen ini merupakan dampak langsung dari realokasi kapasitas produksi semikonduktor global yang didorong oleh melonjaknya permintaan untuk memori High Bandwidth Memory (HBM) untuk kebutuhan pusat data kecerdasan buatan (AI) yang terus berkembang. Tekanan biaya tersebut telah memaksa Apple untuk merevisi strategi pasokannya, dengan mengalihkan sebagian besar pesanan memori ke Samsung Electronics Co.

Dalam konteks pasar memori global, harga modul LPDDR5X 12GB, yang digunakan dalam model seperti iPhone Air dan iPhone 17 Pro, telah meningkat tajam dari sekitar $30 pada awal tahun 2025 menjadi sekitar $70 pada Desember 2025. Lonjakan harga ini mencerminkan dinamika pasar DRAM yang lebih luas, di mana beberapa segmen memori telah menyaksikan kenaikan harga yang mendekati 300 persen dalam rentang waktu yang sama. Eskalasi ini menandai titik balik dari periode stabilitas harga memori sebelumnya dan diprediksi akan mempertahankan tren kenaikan hingga paruh pertama 2026.

Penyebab utama di balik kenaikan dramatis ini adalah fenomena "supersiklus" permintaan DRAM yang dipicu oleh ekspansi eksplosif beban kerja AI dan pusat data. Perusahaan seperti SK Hynix dan Micron Technology secara agresif mengalihkan kapasitas produksi dari LPDDR, memori yang dioptimalkan untuk perangkat seluler, ke produksi HBM yang jauh lebih menguntungkan untuk akselerator AI. Pergeseran strategis ini telah menciptakan kelangkaan pasokan LPDDR untuk pasar konsumen, termasuk industri smartphone, dan memperketat kondisi pasokan secara global.

Menghadapi kondisi pasar yang bergejolak, Apple telah merespons dengan memperkuat ketergantungannya pada Samsung Electronics sebagai pemasok utama RAM untuk iPhone 17. Laporan mengindikasikan bahwa Samsung diperkirakan akan memasok antara 60 hingga 70 persen dari total pesanan LPDDR untuk lini iPhone 17, sebuah peningkatan signifikan dari pola pembagian pesanan yang lebih merata di generasi sebelumnya dengan SK Hynix dan Micron. Samsung dinilai memiliki keunggulan karena mempertahankan fokus substansial pada produksi DRAM seluler, sehingga mampu memenuhi persyaratan volume besar dan kualitas ketat yang dibutuhkan Apple, terutama mengingat sensitivitas chip A19 dan A19 Pro yang akan datang terhadap fluktuasi tegangan.

Implikasi langsung dari kenaikan biaya komponen ini diperkirakan akan terefleksi pada harga ritel iPhone 17. Analis dari Jefferies memproyeksikan kenaikan harga sekitar $50 untuk model iPhone 17 Slim, Pro, dan Pro Max, sebagai upaya Apple untuk mengimbangi tingginya biaya komponen dan potensi tarif perdagangan dengan Tiongkok. Sementara itu, Jeff Pu, seorang analis dari GF Securities, juga memperkirakan kenaikan harga antara $50 hingga $100 untuk model iPhone 17. Beberapa analisis bahkan mengindikasikan bahwa Apple mungkin menghapus opsi penyimpanan 128GB untuk iPhone 17 Pro, menjadikannya model 256GB sebagai konfigurasi awal dengan harga sekitar $1099, sebuah kenaikan $100 dari versi 128GB sebelumnya. Strategi ini bertujuan untuk mendorong peningkatan harga jual rata-rata (ASP) iPhone hingga 5 persen.

Dampak dari kelangkaan dan kenaikan harga memori tidak hanya terbatas pada Apple. Produsen smartphone lainnya juga menghadapi tekanan serupa. Lu Weibing, Presiden Xiaomi, secara terbuka mengakui bahwa perusahaannya tidak dapat mengubah tren rantai pasokan global dan kenaikan biaya penyimpanan jauh lebih tinggi dari perkiraan serta akan terus meningkat. Para analis memproyeksikan bahwa pasokan memori yang ketat dan harga yang tinggi ini dapat berlanjut hingga tahun 2027-2028, ketika fasilitas fabrikasi baru diharapkan mulai beroperasi. Ketidakseimbangan pasokan dan permintaan yang struktural ini akan terus menantang strategi harga dan margin keuntungan produsen perangkat elektronik di seluruh dunia.