Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Komdigi-Telkomsel Genjot Pemulihan Internet Aceh dengan 100 Genset & 500 Ponsel

2025-12-29 | 08:30 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-29T01:30:18Z
Ruang Iklan

Komdigi-Telkomsel Genjot Pemulihan Internet Aceh dengan 100 Genset & 500 Ponsel

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dan Telkomsel pada 22 Desember 2025 mengirimkan 100 unit generator set (genset) berkapasitas 10 kVA dan 500 unit telepon seluler ke Provinsi Aceh, sebagai bagian dari upaya percepatan pemulihan jaringan telekomunikasi pascabencana banjir dan tanah longsor yang melanda wilayah tersebut dan beberapa bagian Sumatra. Bantuan logistik seberat total 50 ton tersebut diberangkatkan melalui jalur udara dari Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, dengan fokus utama pada pemulihan konektivitas di tiga kabupaten Aceh yang paling terdampak: Aceh Tamiang, Gayo Lues, dan Bener Meriah.

Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Sumatra, termasuk Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat dalam beberapa pekan terakhir telah menyebabkan gangguan signifikan pada infrastruktur telekomunikasi, memutus akses komunikasi ribuan warga dan tim tanggap darurat. Pada awal Desember 2025, gangguan di Aceh dilaporkan mempengaruhi lebih dari 1.430 situs telekomunikasi, 2.400 BTS, dan 15 STO, terutama disebabkan oleh pemadaman listrik, runtuhnya menara SUTET, dan terputusnya akses jalan.

Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Komdigi, Fifi Aleyda Yahya, menjelaskan bahwa pengiriman genset ini sangat krusial untuk menghidupkan kembali situs telekomunikasi yang masih terkendala pasokan listrik yang belum stabil, terutama mengingat pemulihan jaringan di Aceh masih berada di kisaran 80% pada tanggal pengiriman. Sementara itu, 500 unit telepon seluler disediakan untuk mendukung koordinasi tim pemulihan bencana dan membantu masyarakat yang perangkat komunikasinya rusak atau hilang akibat bencana. Bantuan ini merupakan pengiriman keempat yang dilakukan oleh Komdigi dan Telkomsel, mengindikasikan respons berkelanjutan terhadap krisis.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, yang meninjau langsung posko Telkomsel Peduli Sumatra di Aceh Tamiang pada 24 Desember 2025, menargetkan 90 persen jaringan di Aceh Tamiang akan pulih pada 27 Desember 2025. Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, pada 28 Desember 2025, bahkan memastikan konektivitas internet di seluruh Aceh akan pulih 90% sebelum pergantian tahun 2026, dengan sisanya menyusul. Telkomsel sendiri mengklaim bahwa seluruh jaringan telekomunikasi di 289 kecamatan di Aceh telah kembali beroperasi normal pada 27 Desember 2025, dengan Kecamatan Syiah Utama di Kabupaten Bener Meriah menjadi wilayah terakhir yang berhasil dipulihkan karena medan yang sulit.

Pemulihan cepat ini menyoroti ketergantungan esensial masyarakat modern pada konektivitas digital, terutama dalam situasi darurat. Gangguan komunikasi tidak hanya menghambat koordinasi tim penyelamat tetapi juga memutus akses informasi dan dukungan bagi korban, serta melumpuhkan aktivitas ekonomi lokal. Insiden ini mempertegas kerentanan infrastruktur Indonesia terhadap perubahan iklim dan kejadian cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi.

Di samping upaya pemulihan infrastruktur fisik, Telkomsel juga meluncurkan "Paket Siaga Peduli Sumatra" berupa paket darurat data dan telepon gratis, serta mendirikan puluhan posko layanan pelanggan darurat di sekitar 100 lokasi di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Langkah-langkah ini menunjukkan pendekatan komprehensif dalam memastikan warga tetap terhubung di tengah krisis.

Namun, tantangan konektivitas di Aceh tidak hanya terbatas pada respons bencana. Data per Maret 2025 menunjukkan masih terdapat 149 desa di Aceh yang mengalami "blank spot" atau tanpa akses sinyal internet, suatu masalah yang menjadi fokus percepatan Kemkomdigi melalui koordinasi dengan operator telekomunikasi swasta. Peristiwa banjir dan longsor ini menjadi studi kasus penting bagi pemerintah dan operator telekomunikasi untuk meningkatkan ketahanan jaringan, memastikan pasokan listrik alternatif yang memadai, dan mempercepat pembangunan infrastruktur yang lebih tangguh di wilayah-wilayah rawan bencana, demi meminimalisir dampak disrupsi komunikasi di masa depan. Upaya berkelanjutan diperlukan untuk tidak hanya memulihkan jaringan pascabencana, tetapi juga membangun fondasi telekomunikasi yang lebih kokoh dan inklusif di seluruh pelosok Indonesia.