Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Sumatra Kembali Terhubung: Jaringan Pulih Mendekati 98%

2026-01-07 | 08:57 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-07T01:57:45Z
Ruang Iklan

Sumatra Kembali Terhubung: Jaringan Pulih Mendekati 98%

Jaringan telekomunikasi di Sumatera berangsur pulih signifikan pascabencana banjir dan tanah longsor yang melanda wilayah tersebut pada akhir tahun 2025, dengan beberapa operator melaporkan tingkat pemulihan mencapai 98 persen bahkan mendekati 100 persen di sejumlah provinsi. Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) beserta operator seluler nasional telah mengintensifkan upaya restorasi infrastruktur yang rusak, meskipun tantangan pasokan listrik di beberapa daerah masih menjadi hambatan utama.

Menurut laporan terbaru hingga awal Januari 2026, Sumatera Barat dan Sumatera Utara menunjukkan progres pemulihan yang sangat tinggi. Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kemkomdigi, Fifi Aleyda Yahya, pada 21 Desember 2025, mengungkapkan bahwa pemulihan jaringan di Sumatera Barat telah mencapai 99 persen, disusul Sumatera Utara dengan 97 persen. Angka ini diperkuat oleh Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, yang pada 14 Desember 2025, menyatakan pemulihan di Sumatera Utara telah mencapai 97,8 persen, dengan 4.273 dari 4.368 menara BTS kembali beroperasi. XL Axiata Smartfren (XLSMART) bahkan mengklaim pemulihan jaringan di Sumatera Utara telah pulih hampir 100 persen dan Sumatera Barat mencapai 100 persen per 30 Desember 2025.

Namun, Provinsi Aceh masih menghadapi kendala paling berat, meskipun progres pemulihan menunjukkan angka impresif. Kemkomdigi melaporkan pemulihan di Aceh mencapai sekitar 80 persen pada 21 Desember 2025. Menkomdigi Meutya Hafid pada 6 Januari 2026, menyebutkan pemulihan jaringan telekomunikasi di Aceh secara keseluruhan telah mencapai 95 persen untuk seluruh operator, dengan tujuh menara BTS masih dalam proses perbaikan dari total 3.208 menara. Direktur Utama PT Telkom Indonesia, Dian Siswarini, juga menyatakan pemulihan jaringan Telkom di Aceh telah mencapai 95 persen per 1 Januari 2026, setelah sekitar 20 persen jaringan optik Telkom di provinsi tersebut mengalami gangguan serius. Sementara itu, Indosat Ooredoo Hutchison secara spesifik mengumumkan tingkat pemulihan jaringan mereka di Aceh telah mencapai 97,5 persen pada 6 Januari 2026.

Gangguan jaringan ini bermula dari serangkaian bencana banjir dan tanah longsor di penghujung tahun 2025, yang merusak infrastruktur vital seperti menara BTS dan memutus pasokan listrik. Ketiadaan listrik menjadi faktor dominan yang menghambat pemulihan, terutama di daerah-daerah terpencil di Aceh Tamiang, Gayo Lues, dan Bener Meriah, di mana beberapa titik jaringan masih bergantung pada pasokan listrik dan berada di kisaran 60-80 persen.

Menanggapi situasi kritis ini, Kemkomdigi bersama operator seluler bergerak cepat. Sebanyak 100 unit generator set (genset) dan 500 unit ponsel telah dikirimkan ke wilayah terdampak, khususnya Aceh, untuk menopang operasional perangkat telekomunikasi di tengah keterbatasan listrik. Selain itu, pemerintah juga mendistribusikan 88 perangkat Starlink ke tiga provinsi terdampak—masing-masing 27 unit ke Aceh dan Sumatera Utara, serta 34 unit ke Sumatera Barat—guna memastikan konektivitas tetap tersedia di lokasi-lokasi yang paling membutuhkan dan terisolasi. Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menegaskan, upaya pemulihan ini merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto untuk segera memulihkan layanan dasar masyarakat, termasuk akses telekomunikasi.

Terhentinya layanan telekomunikasi akibat bencana ini memiliki implikasi jangka panjang yang signifikan. Gangguan ini tidak hanya menghambat komunikasi darurat dan koordinasi penanganan bencana, tetapi juga berdampak serius pada sektor ekonomi. Kementerian Perindustrian memperkirakan bahwa banjir di Sumatera dan Aceh menahan nilai tambah manufaktur nasional pada kisaran Rp 11-15 triliun, terutama akibat gangguan rantai pasok dan distribusi antardaerah. Sektor Industri Kecil dan Menengah (IKM) menjadi salah satu yang paling terpukul, dengan 1.647 industri terdampak di Aceh, 367 di Sumatera Barat, dan 52 di Sumatera Utara hingga 30 Desember 2025. Situasi ini menegaskan betapa krusialnya infrastruktur telekomunikasi yang tangguh sebagai fondasi kebangkitan ekonomi pascabencana dan penunjang ketahanan industri nasional.