Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Telkom Perkuat Upaya Pemulihan Aceh dengan Tim Ekstra

2026-01-05 | 23:13 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-05T16:13:41Z
Ruang Iklan

Telkom Perkuat Upaya Pemulihan Aceh dengan Tim Ekstra

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk mengerahkan tim tambahan dari berbagai unit operasional ke Aceh pada akhir Desember 2025 menyusul terganggunya sejumlah infrastruktur jaringan telekomunikasi pascabanjir bandang dan longsor yang melanda beberapa wilayah di provinsi tersebut, menghambat konektivitas esensial bagi ratusan ribu pelanggan dan operasional bisnis lokal. Langkah ini diambil untuk mempercepat proses pemulihan yang diperkirakan memakan waktu lebih dari seming8 Minggu jika hanya mengandalkan sumber daya lokal, mengingat skala kerusakan yang meluas meliputi putusnya kabel serat optik dan rusaknya perangkat aktif di titik-titik krusial distribusi. Bencana alam yang terjadi pada pertengahan Desember itu menyebabkan setidaknya 15 tower BTS tidak berfungsi optimal dan mengganggu layanan internet serta suara di 12 kabupaten, dengan Aceh Utara dan Aceh Timur menjadi daerah terdampak paling parah.

Pengerahan tim tambahan ini merupakan respons terhadap desakan publik dan pemerintah daerah yang menyoroti lambatnya pemulihan layanan vital pascabencana, yang menghambat koordinasi penanganan darurat dan aktivitas ekonomi masyarakat. Tim yang terdiri dari teknisi spesialis jaringan, ahli fiber optik, dan tim logistik dengan peralatan khusus, termasuk mobile genset dan perangkat satelit cadangan, ditargetkan mampu memulihkan layanan utama dalam waktu dua hingga tiga minggu ke depan. Vice President Network Operation Telkom Regional 1 Sumatera, Budi Satria, menyatakan bahwa prioritas utama adalah memulihkan jalur komunikasi di fasilitas publik seperti rumah sakit, posko bencana, dan kantor pemerintahan, sebelum secara bertahap mengembalikan layanan ke pelanggan ritel. Insiden ini bukan kali pertama Aceh menghadapi gangguan jaringan telekomunikasi akibat bencana alam; provinsi ini, yang rentan terhadap gempa bumi, tsunami, dan banjir, secara historis sering mengalami tantangan serupa dalam menjaga stabilitas infrastruktur komunikasinya. Pada tahun 2018 dan 2020, bencana serupa juga menyebabkan kelumpuhan jaringan yang memerlukan respons cepat dari penyedia layanan.

Implikasi jangka panjang dari insiden berulang ini menyoroti urgensi Telkom untuk tidak hanya berfokus pada respons darurat, melainkan juga pada pembangunan infrastruktur yang lebih tangguh dan tahan bencana. Ahli telekomunikasi dari Universitas Syiah Kuala, Dr. Ir. Herman Suri, menekankan pentingnya redundansi jaringan yang lebih kuat, termasuk pembangunan jalur alternatif serat optik dan adopsi teknologi nirkabel berkapasitas tinggi sebagai cadangan, untuk meminimalkan dampak saat infrastruktur utama terganggu. Selain itu, kolaborasi dengan pemerintah daerah dalam perencanaan tata ruang dan mitigasi bencana juga krusial untuk melindungi aset telekomunikasi strategis. Kegagalan dalam memastikan konektivitas yang stabil di daerah rawan bencana tidak hanya merugikan pelanggan secara individual, tetapi juga menghambat pertumbuhan ekonomi digital dan kesiapsiagaan daerah dalam menghadapi krisis di masa depan. Investasi berkelanjutan dalam teknologi tahan bencana dan peningkatan kapasitas tim respons cepat menjadi imperatif bagi Telkom untuk menjaga kepercayaan publik dan mendukung agenda pembangunan nasional yang inklusif.